Pengalaman kerja yang sangat berkesan di PT Kontakperkasa Futures Bandung

Tags

, , ,

Pagi,,

Pukul 07:15 dengan pakaian kemeja dan celana katun, saya mulai mengendarai motor dengan semangat dan .

Selama 30 menit diperjalanan, terbayang bagaimana nanti saya di kantor ini? apa yang harus saya kerjakan nanti? Bagaimanapun, ini adalah tantangan utuk saya, akan saya hadapi dengan senyuman. Hehe.

Sesampainya disana, saya langsung menempelkan jari pada mesin fingerprint, dan langsung menuju ruangan kerja. “Oh, udah dateng ya, sini, santai aja”. Begitulah kira-kira ucapan selamat datang yang saya terima. Baguslah, ternyata suasananya tidak begitu serius.

Saya bisa beradaptasi dengan baik, rekan-rekan kerja yang ramah, suasana kerja yang baik membuat saya merasa senang bisa bekerja disini. Tapi memang ada satu ganjalan di hati ini, “tapi kok kalo search google, perusahaan ini banyak review negatif ya?”

Selama beberapa bulan saya pelajari semua hal tentang perusahaan ini langsung dari dalam, ternyata saya menemukan jawabannya. “Ohh, ternyata gitu, itu sih reviewernya aja yg asal, atau palingan cuma barisan sakit hati aja.”

Banyak sekali ilmu yang saya dapat selama bekerja disini, bukan soal skill bekerja saja, tapi tentang bagaimana sebuah ekosistem yang disebut kantor ini juga terasa persaudaraan yang erat.

Sampai akhirnya saya mendapatkan penghasilan yang baik dari sini, saya pun makin yakin semua berita negatif tentang kantor ini hanyalah angin lalu. Kantor ini masih ada kan sampai sekarang?

Apapun pekerjaan kita, selama itu halal, kerjakanlah dengan baik. Walaupun banyak tantangannya, itulah hidup, itulah yang akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.

Terima kasih kepada PT Kontakperkasa Futures Bandung,

Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga didalamnya.

Advertisements

Masih bearish, harga emas tembus di bawah US$ 1.200

Tags

, , ,

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas masih menguji level support US$ 1.200 per ons troi sejak awal pekan. Rabu (15/8) pukul 7.57 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange turun ke US$ 1.199,90 per ons troi dari penutupan harga kemarin pada US$ 1.200,70 per ons troi.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Awal pekan ini, harga emas menyentuh level terendah sejak Januari 2017 ke US$ 1.198,90 per ons troi. Krisis finansial Turki tak mampu mengangkat harga emas lebih tinggi.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – “Banyak investor kecewa karena menganggap emas akan menjadi safe haven di tengah konflik perdagangan dan krisis Turki. Nyatanya tidak,” kata Georgette Boelle, commodity strategist ABN AMRO kepada Reuters.

Harga emas tergerus 9,98% sejak akhir tahun lalu. Hingga saat ini, harga rata-rata emas sepanjang 2018 masih berada di US$ 1.318,41 per ons troi. Tren harga cenderung melemah sepanjang 2018.

Menghindari emas, investor justru memilih US treasury sebagai aset lindung nilai di tengah perang dagang serta krisis ekonomi Turki dan Venezuela. “Penurunan hingga US$ 1.150 bisa terjadi sebelum ada support kuat. Saat ini sulit memandang bullish emas,” kata Josh Graves, senior commodities strategist RJO Futures.

Carlo Alberto De Casa, chief analyst ActivTrades mengatakan, support kuat harga emas berada di US$ 1.180 per ons troi. Ini adalah harga terendah bulan Januari 2017. Dia menambahkan, sulitnya rebound harga menunjukkan tren utama logam mulia masih turun.

Source : kontan.co.id

Harga minyak turun dalam tiga hari berturut-turut

Tags

, , ,

PT KONTAK PERKASA – Harga minyak masih cenderung turun hingga pertengahan pekan ini. Rabu (15/8) pukul 7.10 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2018 di New York Mercantile Exchange turun ke US$ 66,68 per barel.

PT KONTAK PERKASA – Harga minyak ini turun 0,54% ketimbang harga penutupan kemarin pada US$ 67,04 per barel. Ini adalah penurunan harga dalam tiga hari berturut-turut. Dalam sepekan, harga minyak pun masih turun 0,39%.

PT KONTAK PERKASA – Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Oktober 2018 di ICE Futures pun turun 0,37% ke US$ 72,19 per barel ketimbang harga penutupan kemarin. Sepekan, harga minyak acuan internasional ini turun tipis 0,12%.

Data asosiasi minyak, American Petroleum Institute menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) pekan lalu naik 3,7 juta barel. Angka ini jauh melampaui prediksi pasar yang meramalkan penurunan stok hingga 2,5 juta barel.

Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) pun masih menjadi penghambat kenaikan harga minyak. “Ketika dollar mencatat level tertinggi, mungkin menjadi tanda-tanda bahwa pasar masih khawatir akan situasi Turki,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group kepada Reuters.

Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates mengatakan, pasar saham dan dollar AS menyajikan sinyal utama perkembangan krisis ekonomi Turki. “Meski lira mencatat rebound, posisi perdagangan antara Turki dan AS belum menunjukkan kemajuan,” kata dia.

Dari sisi permintaan dan pasokan minyak, OPEC memperkirakan pasokan di luar organisasi pengekspor ini naik sebesar 2,13 juta barel per hari di tahun depan. Angka ini lebih tinggi 30.000 barel per hari daripada prediksi bulan lalu.

Source : kontan.co.id

Krisis Turki memanas, harga minyak ditutup melemah di awal pekan

Tags

, , ,

KONTAK PERKASA FUTURES – Mengawali pekan ini, minyak mentah belum bisa menunjukkan penguatannya. Pada perdagangan Senin (13/3) harganya ditutup melemah dibanding hari sebelumnya. Gejolak ekonomi di Turki dan penguatan dollar Amerika Serikat (AS) rupanya telah meningkatkan kekhawatiran tentang permintaan minyak global.

KONTAK PERKASA FUTURES – Mengutip Bloomberg, minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 0,3% ke level US$ 72,61 per barel pada Senin.

KONTAK PERKASA FUTURES – Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman bulan yang sama turun 0,7% menjadi US$ 67,20 per barel.

Dalam bulan ini minyak mentah telah turun lebih dari 2% karena sengketa perdagangan internasional mengancam akan mengempiskan pertumbuhan permintaan energi.

Di Turki, obligasi, saham dan mata uang lira turun seiring merosotnya kepercayaan investor. “Persepsi tentang permintaan pasar berkembang juga akan menjadi negatif untuk energi,” kata Bob Yawger, Direktur Mizuho Securities USA LLC seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/8).

Meski Turki tergolong konsumen minyak yang relatif kecil atau kurang dari 1 barel per hari, tetapi kekhawatiran merembetnya krisis tetap membayangi. Sekarang saja krisis keuangan telah menyeret turun mata uang Afrika Selatan, Argentina, Meksiko dan Rusia.

Sementara di lain pihak, OPEC meningkatkan produksi pada bulan Juli dan stok di pusat pasokan Oklahoma di AS terlihat meningkat. Output rata-rata OPEC di bulan Juli yang berada pada level 32,32 juta barel per naik 41.000 barel per hari. Sementara stok minyak mentah Cushing terlihat meningkat 500.000 barel.

Persediaan minyak mentah telah berkurang karena fasilitas pengolahan minyak di Kanada yang telah mengurangi aliran minyak mentah. Fasilitas pemrosesan Syncrude Kanada telah mulai meningkatkan produksi minyak untuk kembali ke produksi penuh pada bulan September.

Badan Administrasi Informasi Energi memperkirakan pasokan akan meningkat menjadi 7,52 juta barel per hari pada bulan September.

Source : kontan.co.id

Nilai tukar rupiah berpotensi kena imbas efek domino depresiasi lira

Tags

, , ,

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8) lalu, posisi lira merosot 15,88% ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS). Dihitung sejak awal tahun, lira telah melemah 42% terhadap dollar AS.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Sebagai sesama mata uang emerging market, depresiasi mendalam yang dialami lira berpotensi ikut menyeret rupiah. Apalagi, nilai tukar mata uang rupiah sendiri masih belum begitu stabil lantaran beberapa sentimen domestik maupun eksternal yang menyelimuti.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail menjelaskan, indeks MSCI emerging market sudah turun sekitar 1,2% dalam sehari pada Jumat akhir pekan lalu. Sementara, cukup banyak saham dalam negeri yang menempati indeks tersebut. “Net foreign sell di pasar saham domestik sepertinya akan mulai terjadi besok,” kata Mikail, Minggu (12/8).

Di pasar obligasi, minat investor asing juga berpotensi mengendur. Akhir pekan lalu, yield US Treasury bertenor 10 tahun turun 1,8% menjadi 2,87%. Sementara, indeks dollar menanjak menembus level 96. “Ini yang akan menekan nilai tukar rupiah di perdagangan besok,” ujarnya.

Kendati begitu, Mikail meyakini kurs rupiah tidak akan jatuh begitu dalam lantaran efek jatuhnya lira. Sebab, kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih jauh lebih kuat ketimbang Turki meski sama-sama berstatus negara berkembang.

Memang, current account deficit (CAD) Indonesia di kuartal II 2018 yang baru diumumkan melembar menjadi 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Tetapi CAD Turki jauh lebih lebar yakni sekitar 5,5%. Begitu pun dengan defisit anggaran pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB)  atawa government deficit to GDP Turki mencapai 6%, sedangkan Indonesia hanya 0,75%.

“Dari segi rating obligasi, Turki juga hanya mendapat peringkat BB- (double B minus) dari lembaga S&P. Sementara, rating kita lebih baik yaitu BBB- (triple B minus),” kata Mikail.

Ia tak menampik, besok Senin (13/8), kurs rupiah sangat mungkin melemah dan bergerak dalam kisaran Rp 14.600 -Rp 14.700 per dollar AS. Namun, jika Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi, ada peluang rupiah tetap terjaga di area Rp 14.500 per dollar AS.

Setali tiga uang, ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksikan kurs rupiah akan mengalami tekanan pada perdagangan besok. Sentimen negatif domestik dari kondisi defisit transaksi berjalan yang melebar, ditambah dengan tekanan regional, menurut Josua, membawa nilai non deliverable forward (NDF) rupiah akhir pekan lalu mendekati Rp 14.600.

Namun, Josua meyakini BI  akan mengantisipasi pelemahan rupiah dengan aksi stabilisasi dan intervensi di pasar valas maupun pasar obligasi. “Untuk besok prediksinya rupiah bergerak dalam rentang Rp 14.475 – Rp 14.575 per dollar AS,” kata Josua, Minggu (12/8).

Source : kontan.co.id

Nasdaq logs best streak since October as broader market closes lower

Tags

, , ,

PT KONTAK PERKASA – U.S. stocks closed mostly lower Thursday as weak energy and industrial shares weighed on the market, but the Nasdaq bucked the trend to rise for an eighth straight session, logging its best winning streak since October.

PT KONTAK PERKASA – Closing numbers for key benchmarks, however, do not tell the full story, with the S&P 500 having spent most of the day in positive territory and then retreating toward the closing bell along with the Nasdaq, trimming its gains as the tech sector turned weak.
How did the benchmarks fare?

PT KONTAK PERKASA – The Dow Jones Industrial Average DJIA, -0.29% fell 74.52 points, 0.3%, to 25,509.23, while the S&P 500 SPX, -0.14% shed 4.12 points, or 0.1%, to 2,853.58. The Nasdaq Composite Index COMP, +0.04% edged up 3.46 points to 7,891.78.

For the week, the Dow is set to gain 0.2%, the S&P 500 is on pace to advance 0.5% and the Nasdaq is on track for a weekly return of 1%.
What drove the market?

Trading in recent sessions has mostly been a tug of war between concerns about the continuing trade dispute between the U.S. and China and positive sentiment over strong corporate earnings against a healthy economic backdrop.

U.S. earnings, on the whole, are solid, with the number of companies beating earnings estimates at the highest point since the third quarter of 2009, according to JPMorgan Chase.

But trade tensions between Washington and Beijing linger, threatening to derail the market’s upside momentum. On Wednesday, China warned that duties imposed by President Donald Trump’s administration on some $50 billion of Chinese imports set to be enacted on Aug. 23 would be matched, and China’s Ministry of Commerce said that the country “has to retaliate as necessary.”

Still, China’s markets have bounced back after getting knocked lower earlier this week, suggesting to global investors, at least momentarily, that the market of the world’s second-largest economy isn’t unraveling on trade clashes as it also battles a domestic slowdown.

Read: Behold the ‘scariest chart’ for the stock market
What data were in focus?

In the latest economic data, initial jobless claims fell more than expected in the latest week, while the July producer-price index was flat, compared with expectations for a 0.2% rise.
What were market participants saying?

“Things are looking good in the U.S. in terms of earnings and data, but things aren’t as rosy if you look to China, emerging markets or Europe. Weakness in those regions could eventually become a headwind for the U.S.,” said Suzanne Hutchins, senior portfolio manager of the $1.5 billion Dreyfus Global Real Return Fund, which is run out of the investment boutique Newton.

“The U.S. market seems to be shrugging off any sort of risk right now, since the S&P 500 is near a record and volatility is low. We think that’s wrong, as trade would become quite challenging for the global economy,” she said.

“There were many clues that suggested selling stocks in May and waiting until October to move back into equities may not work in 2018,” said Ryan Detrick, senior market strategist for LPL Financial, referring to the popular adage of “sell in May and go away.”

Detrick wrote in his report that the market has gained each month between April and July during what is typically a weak season, and in such years, the market tended to add roughly 10% on average in the following months.
Which stocks were in focus?

Rite Aid Corp. shares RAD, -11.49% sank 12% after a merger between the retailer and Albertsons Cos. was called off Wednesday.

Yelp Inc. YELP, +26.65% shares surged 27% after the review website late Wednesday reported better-than-expected earnings and raised its full-year profit outlook.

Viacom Inc. VIAB, +6.01% jumped 6% after reporting third-quarter earnings that beat expectations, but sales were below forecasts.

Booking Holdings Inc. BKNG, -5.02% dropped 5% after it issued a soft full-year outlook.

Tesla Inc. TSLA, -4.83% fell 4.8% as investors continued to digest the recent news that CEO Elon Musk was “considering” taking the company private.

Roku Inc. ROKU, +21.31% surged 21% a day after it reported better-than-expected revenue and unexpectedly swung to a narrow profit.

IAC IAC, +8.72% gained 8.7% after the company late Wednesday posted better-than-expected second-quarter earnings and sales, boosted by strong results at its recent spinoffs, including Match Group Inc. MTCH, +8.07% and ANGI Homeservices Inc. ANGI, +13.97% .

Shares of Tronc Inc. TRNC, +1.92% climbed 1.9% on a report that a private-equity group is considering buying the media company.

Tribune Media Co. TRCO, +2.85% said Thursday it has terminated the $3.9 billion deal to be acquired by Sinclair Broadcast Group Inc., originally announced in May 2017, and said it has sued Sinclair for breach of contract. Tribune shares were up 2.9%.

Gannett Co. GCI, +3.37% shares came off earlier highs to rise 3.4% after the media company posted second-quarter revenue that fell more than expected, though it raised its adjusted 2018 Ebitda outlook.

ELF Beauty Inc. ELF, -33.94% shares slumped 34% after the beauty products retailer lowered its revenue outlook for 2018.
What were other markets doing?

The U.S. benchmark West Texas Intermediate futures CLU8, +0.01% fell while gold futures GCZ8, -0.02% ended fractionally lower.

The U.S. Dollar Index DXY, -0.07% rose as the Russian ruble USDRUB, -0.0577% dropped to a two-year low against the greenback in the wake of new sanctions on Russia over a nerve-agent attack.

European stocks were mixed while Asian markets were mostly higher with China outperforming peers. The Shanghai Composite Index SHCOMP, -0.12% gained 1.8% and the Shenzhen A Share index 399106, +0.30% surged 2.7%.

Source : kontan.co.id

Jelang tahun politik, IHSG bisa capai 6.600 di level optimis

Tags

, , ,

KONTAK PERKASA FUTURES – Sampai saat ini, pasar berhadapan dengan berbagai sentimen, mulai dari kinerja emiten yang membaik, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah yang fluktuatif, sampai isu perang dagang dan tren kenaikan bunga The Fed.

KONTAK PERKASA FUTURES – Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menyebut masih ada berbagai tantangan yang harus dihadapi sampai sisa tahun ini.

KONTAK PERKASA FUTURES – “Tantangan pasar di semester kedua tahun 2018, saya fokus ke trade war. Karena itu akan berpengaruh ke harga komoditas,” katanya.

Dibayangi isu perang dagang global, Edwin memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 sebesar 5,23%, naik dari tahun 2017 yang sebesar 5,06%.

Dia pun menyiapkan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai akhir tahun. “Level saham moderatnya di 6.211. Sedangkan level optimis di 6.600,” ujar Edwin di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (8/8).

Selain perang dagang, dia juga menyebut sentimen politik yang mulai ramai jelang pemilu 2019. Pasar akan menimbang para calon presiden dan wapres dan bagaimana keberlanjutan pemerintah dan infrastrukturnya.

“Pasar lebih suka status quo. Karena dengan ada kepastian siapa cawapres nantinya, market akan lebih percaya diri. Yang saya khawatirkan, keluarga Cendana punya effort untuk berdiri di belakang oposisi,” ungkap Edwin.

Edwin melihat di semester dua ini butuh skenario ajaib. Di mana pertumbuhan ekonomi jauh meningkat, rupiah bisa di bawah Rp 14.000. Hanya saja, Edwin ragu rupiah akan di bawah Rp 14.000 sampai akhir tahun ini. Karena hal itu, sulit masyarakat percaya dengan pasar.

Sedangkan, Pengamat pasar modal, Satrio Utomo, yakin dengan pasar. Karena melihat kinerja emiten yang memperlihatkan hal baik. “Analisisnya cenderung bullish, yaitu IHSG 6.400 sampai 6.500-an,” sebutnya.

Sentimen yang dilihat Satrio adalah perang dagang Amerika dan China, The Fed masih akan menaikkan suku bunga hingga akhir 2019. Presiden Trump yang kurang berkenan dengan Yuan yang terus melemah, dana asing mulai masuk semenjak pertengahan Juli.

Sekadar informasi, hari ini IHSG ditutup di posisi 6.094.

Source : kontan.co.id

Dow Jones naik 0,5%, terdorong optimisme saham-saham teknologi

Tags

, , ,

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Indeks S&P 500 beringsut lebih dekat ke rekor tertinggi pada hari Selasa (7/8), terangkat oleh Amazon, Alphabet dan Microsoft. Musim laba kuartal kedua yang kuat memicu optimisme kekuatan ekonomi AS.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – S&P 500 terakhir ditutup pada rekor tertinggi 26 Januari dan puncak baru akan meyakinkan investor yang khawatir dalam beberapa bulan terakhir bahwa hampir satu dekade keuntungan di Wall Street mungkin akan berakhir. Setelah kenaikan 0,28% pada hari Selasa, S&P 500 naik hampir 7% sejak awal 2018.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Reli tajam saham teknologi telah membantu Nasdaq pulih lebih cepat daripada pasar yang lebih luas dari aksi jual pada Februari, mencapai rekor tinggi akhir bulan lalu.

“Kita mungkin mencapai rekor dan melewatinya. Selama masih ada pendapatan yang kuat dan tidak ada blow up perusahaan, tidak ada yang mengatakan kita harus berhenti. Momentum bisa berlangsung untuk waktu yang lama,” kata Liz Young, senior. ahli strategi investasi di BNY Mellon Investment Management di New York.

Sektor keuangan naik 0,48% karena imbal hasil yang lebih tinggi pada obligasi Treasury AS 10-tahun.

Indeks energi S&P 500 naik 0,72% setelah sanksi AS atas barang-barang Iran mulai berlaku, meningkatkan kekhawatiran tentang pasokan.

Google induk Alphabet naik 1,47% dan Microsoft naik 0,69%, mendorong kenaikan 0,33% dalam indeks informasi dan teknologi S&P.

Amazon.com menambahkan 0,80%. Kelas berat ritel dan infrastruktur Internet memberikan peningkatan terbesar bagi S&P 500, diikuti oleh Alphabet dan Microsoft.

Tesla melonjak 10,99% setelah Chief Executive Elon Musk mengatakan dia mempertimbangkan mengambil pabrik mobil pribadi.

Musim penghasilan yang kuat telah membantu saham AS memberikan sebagian dampak dari masalah perdagangan yang mendidih.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,5% untuk mengakhiri hari di 25.628,91 poin. S&P 500 mengakhiri sesi di 2,858.45, hanya sedikit lebih rendah dari rekor di Januari 2.872,87. Nasdaq Composite bertambah 0,31% menjadi 7.883,66.

Indeks Volatilitas CBOE, “pengukur rasa takut” Wall Street turun menjadi 10.93 poin, terendah sejak Januari.

Volume di bursa AS adalah 6,2 miliar saham, dibandingkan dengan 6,3 miliar saham rata-rata untuk 20 hari perdagangan terakhir.

Source : kontan.co.id

Harga emas menyentuh rekor terendah sejak Januari 2017

Tags

, , ,

PT KONTAK PERKASA – Harga emas semakin suram di tahun ini. Selasa (7/8) pukul 7.43 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange turun level terendah baru di US$ 1.216 per ons troi.

PT KONTAK PERKASA – Dalam sehari, harga emas turun 0,14%. Dalam sepekan, harga logam mulai ini tergerus 1,43%. Harga emas ini pun menyentuh level terendah sejak awal Januari 2017.

PT KONTAK PERKASA – Nilai tukar dollar yang makin kuat menjadi salah satu penyebab pelemahan harga emas. “Para trader menambah posisi short pada emas, dan posisi ini menyentuh rekor,” kata Ole Hansen dari Saxo Bank kepada Reuters.

Posisi short atas emas mencapai 41.087 kontrak. Ini adalah posisi short terbesar sejak tersedianya pencatatan perdagangan pada 2006 lalu. Posisi short biasanya diambil dengan harapan harga cenderung menurun.

Harga emas ini masih turun meski sanksi Amerika Serikat (AS) atas Iran sudah di depan mata. Pekan ini, AS akan menerapkan sanksi ekonomi. Pejabat senior pemerintahan AS mengatakan, langkah ini akan berdampak signifikan bagi ekonomi Iran. Sanksi ini termasuk transaksi logam mulia, surat berharga bank, baja, dan batubara.

George Gero, managing director RBC Wealth Management mengatakan, warga IRan membeli emas untuk menopang mata uang. “Tapi permintaan ini tidak menutup penjualan emas di negara-negara barat karena suku bunga dan nilai tukar yang lebih tinggi di AS,” kata Gero.

Investor pun lebih suka membeli dollar sebagai aset safe haven daripada emas di tengah panasnya perang dagang AS dan China.

Source : kontan.co.id

Harga minyak masih tertekan perang dagang dan pasokan

Tags

, , ,

KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak pagi ini naik tipis dari posisi penutupan pekan lalu. Tapi, secara mingguan, harga minyak masih turun 2,22%.

KONTAK PERKASA FUTURES – Senin (6/8) pukul 7.28 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2018 di New York Mercantile Exchange berada di 68,57 per barel. Harga ini naik 0,12% jika dibandingkan dengan harga di akhir pekan lalu.

KONTAK PERKASA FUTURES – Sedangkan harga minyak brent untuk pengiriman Oktober 2018 di ICE Futures justru turun tipis 0,02% ke US$ 73,19 per barel ketimbang posisi akhir pekan di US$ 73,21 per barel. Dalam sepekan, harga minyak brent tergerus 3,12%.

Saling balas tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China menjadi salah satu kekhawatiran di pasar minyak. BUMN China, Sinopec memangkas pembelian minyak dari AS. Unipec, unit bisnis perdagangan Sinopec, menghentikan impor minyak mentah dari AS seiring makin panasnya perang dagang kedua pihak.

“Permintaan China dari pengolahan independen juga lebih rendah di tengah perang dagang yang makin panas,” kata Warren Patterson, commodities strategist ING kepada Reuters.

China berencana menerapkan tarif impor LNG. Hal ini memicu kekhawatiran munculnya kebijakan sejenis paja minyak.

Di sisi lain, produksi minyak Rusia naik 150.000 barel per hari pada bulan Juli menjadi 11,21 juta barel per hari. Arab Saudi pun mengerek produksi menjadi sekitar 11 juta barel per hari. AS juga terus memecahkan rekor produksi minyak mendekati level produksi Arab Saudi.

Source : kontan.co.id